Be yourself; Everyone else is already taken.
— Oscar Wilde.
This is the first post on my new blog. I’m just getting this new blog going, so stay tuned for more. Subscribe below to get notified when I post new updates.
Be yourself; Everyone else is already taken.
— Oscar Wilde.
This is the first post on my new blog. I’m just getting this new blog going, so stay tuned for more. Subscribe below to get notified when I post new updates.

Pulau Bali, si pulau kecil yang terkenal dengan sebutannya sebagai “Pulau Dewata” menyimpan segudang keunikan budaya dan keindahan alamnya. Si Pulau Kecil ini semakin menunjukkan ketangguhannya. Kini, Pulau Bali menjelma menjadi destinasi wisata yang semakin terkenal. Bahkan, Pulau Bali merupakan salah satu destinasi wisata dunia yang tak bisa dikalahkan atau diremehkan jika dibandingkan dengan destinasi wisata lainnya, baik destinasi dalam negeri maupun destinasi manca negara.

Pulau Bali memang memiliki “magnet” yang bisa menggaet wisatawan dari berbagai belahan dunia. Pulau Dewata ini punya beragam jenis wisata mulai dari alam, budaya, hingga kuliner. Tak heran Pulau Bali dinobatkan sebagai destinasi terbaik di dunia. Penghargaan ini diberikan oleh TripAdvisor lewat Travellers’ Choice Awards 2017. Mengutip situs resmi TripAdvisor, Kamis (13/4/2017), Bali menduduki peringkat pertama dari 25 destinasi terbaik di dunia. Mengalahkan destinasi-destinasi di Eropa, Amerika, sampai Timur Tengah. “Pulau Bali di Indonesia menjadi destinasi favorit baik untuk wisatawan yang butuh rileksasi sekaligus petualangan,” begitu ulasan tentang Bali yang dikutip dari situs TripAdvisor. Peringkat dua ditempati oleh London (Inggris), disusul oleh Paris (Perancis). Dua peringkat selanjutnya adalah Roma (Italia) dan New York (Amerika Serikat). Di kawasan Asia Tenggara, beberapa destinasi yang masuk dalam daftar antara lain Siem Reap di Kamboja (peringkat 8), Phuket di Thailand (peringkat 10), dan Hoi An di Vietnam (peringkat 13).

Bukan hanya itu saja, Bali juga terpilih sebagai Top Destinations in Asia 2017, mengalahkan Siem Reap (Kamboja), Phuket (Thailand), Hoi An (Vietnam), dan Kathmandu (Nepal), yang berada di peringkat setelahnya. Kementerian Pariwisata (Kemenpar) tentu saja mengapresiasi pemilihan Bali sebagai tujuan wisata terbaik versi perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat itu. Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, prestasi seperti itu sangat membantu meningkatkan citra pariwisata Tanah Air. Apalagi pemilihannya dilakukan melalui pemungutan suara para netizen di dunia.

“Setiap kali citra suatu kawasan naik 10 persen, maka kunjungan wisatawan naik 11 persen dan investasi naik 1 persen,” kata Arief, mengutip analisa dari perusahaan kehumasan internasional, Ogilvy. Arief juga menyebut pengaruh faktor 3C dalam setiap “kompetisi penobatan terbaik” dengan level internasional.
“Penghargaan akan menaikkan Confidence Level, atau kepercayaan diri secara internal Bali dan Indonesia. Penghargaan juga mendongkrak Credibility, kepercayaan pada public dunia, akan Bali dan Indonesia, semakin diakui oleh dunia. Penghargaan ikut sekaligus untuk Calibration, mendekatkan kriteria ideal sesuai standar global,” ujar Arief.
Arief lanjut mengatakan, prestasi yang diraih Bali semakin menguatkan alasan kalau “pencitraan” pariwisata melalui dunia maya sangatlah penting.
“Itu sudah terbukti, karena selain Tripadvisor, sejumlah situs dan asosiasi internasional juga pernah menobatkan Bali sebagai yang terbaik, antara lain Travel and Leisure, World Travel Awards, Conde Nast Traveller sampai UNWTO Awards,” pungkas Arief.
Selain penobatan Bali sebagai salah satu destinasi wisata dunia tersebut, Bali juga mampu mencetak sumber daya manusia (SDM) yang berkompetensi global. Hal tersebut terbukti dari adanya penyelenggaraan 1st Annual Hottelier Summit Indonesia 2019 yang digelar Global Hospitality Expert (GHE) di H Sovereign Bali, Jumat (12/7/2019) hingga Sabtu (13/7/2019). Latar belakang digelarnya acara ini, yaitu Keberadaan pariwisata sebagai penggerak utama perekonomian Bali menjadikan industri keramahtamahan (hospitality) mempunyai peran yang sangat strategis. Namun semua pihak harus memiliki pemahaman komprehensif tentang kepariwisataan, sehingga bermanfaat sebesar-besarnya bagi kesejahtaraan bangsa secara merata dan tetap menjaga kelangsungan sumber daya yang ada agar bermanfaat bagi generasi mendatang.
Menurut Agus Yoga Iswara, BBA., BBM., MM., CHA selaku President Director GHE, kegiatan ini merupakan sebuah media untuk mengedukasi para praktisi, investor serta seluruh insan pariwisata akan pentingnya mengetahui tren terkini di industri pariwisata. Sesuai tema yang diambil yakni “Leveraging Local Talent for World Class Hotelier” diharapkan sumber daya manusia lokal di Bali dan Indonesia benar-benar mampu untuk menjadi salah satu barometer insan pariwisata yang ahli berkelas internasional dan menjadi tuan di negerinya sendiri.
Dalam kegiatan 2 hari itu, dilaksanakan sejumlah seminar dengan topik yang strategis untuk berbagai divisi pada industri pariwisata dan perhotelan. Yoga Iswara menambahkan bahwa tujuan dilaksanakan kegiatan ini adalah untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Bali dan Indonesia bukan hanya terkenal sebagai destinasi wisata namun juga dikenal sebagai pencetak dan penyedia sumber daya manusia (SDM) kepariwisataan yang handal dan berstandar global.
Pada akhir acara, Sabtu (13/7) akan dilaksanakan pula kegiatan perayaan ulang tahun ke-2 Global Hospitality Expert (GHE). Puncak acara akan diisi dengan penganugerahan apresiasi kepada para insan pariwisata yang terpilih berdasarkan kontribusi dan pemikiran cerdasnya dalam memajukan pariwisata di Bali dan Indonesia.
Di samping itu diserahkan juga penghargaan sepanjang masa (Lifetime Achievement) kepada tokoh budaya Bali yang telah menciptakan pondasi pariwisata Bali yang berbasis budaya dan menjadi taksu pariwisata Bali. Jumlah penerima “Global Hospitality Award 2019” mencapai 13 orang. Global Hospitality Expert juga akan memberikan penghargaan (Appeciation Certificate) kepada para ketua asosiasi kepariwisataan di Bali yang telah berjasa dan berkontribusi dalam memimpin asosiasinya serta berperan aktif dalam pembangunan kepariwisataan. Penghargaan akan diserahkan kepada 24 ketua asosiasi baik usaha, pemilik, profesi, pendidikan, pelatihan serta lembaga pariwisata dan perhotelan di Bali.
Dari kedua penghargaan dan acara yang digelar tersebut, telah menunjukkan bahwa kini Pulau Bali semakin siap untuk menantang dunia. Semakin matang sebagai destinasi wisata dunia yang mampu bersaing di era globalisasi seperti saat ini. Tentunya untuk mempertahankan dan meningkatkan pesona Bali sebagai destinasi wisata dunia harus dibantu oleh seluruh masyarakatnya. Bukan hanya masyarakat yang bergerak di bidang pariwisata, tetapi juga oleh seluruh lapisan masyarakat. Apalagi di masa industry 4.0 seperti saat ini. Terutama generasi muda harus mampu menjadi SDM yang unggul dan berkompeten agar nantinya Bali tetap eksis atau bahkan semakin eksis di mata dunia.

Pengusaha merupakan salah satu pekerjaan yang sangat saya sukai dan saya selalu memimpikan jika saya memiliki kesempatan untuk menjadi seorang pengusaha yang sukses. Menjadi seorang pengusaha memang tidak mudah. Banyak fase yang perlu dilewati. Fase memulai, membangun, mempertahankan, mengembangkan, bahkan hingga fase jatuh lalu bangkit kembali memulai semuanya dari awal, hingga kembali sukses. Berbagai kesulitan harus diatasi dan dilalui. Namun, menurut saya, hal tersebutlah yang memberikan adanya rasa yang menantang bagi saya. Oleh karena itu, saya sangat ingin memiliki kesempatan untuk menjadi seorang pengusaha. Jika saya diberikan kesempatan untuk menjadi seorang pengusaha, saya memilih untuk menjadi pengusaha di bidang kuliner khususnya yang berkaitan dengan makanan sehat berjenis roti atau kue dengan cita rasa khas masakan Bali.


Bagi saya, bidang bisnis kuliner cukup banyak menjanjikan harapan untuk sukses bagi pelakunya. Bidang ini menjadi salah satu bidang yang cukup banyak dipilih sebagai andalan meraup keuntungan. Banyaknya contoh yang berhasil juga menjadikannya magnet penarik perhatian saya untuk ikut mengeluti bidang ini. Meski untuk mencapai taraf tersebut juga membutuhkan ketekunan seperti pada bidang bisnis lainnya. Selain itu, tingkat kesulitan untuk berbisnis kuliner ini termasuk sederhana atau mudah dilakukan. Karena sebetulnya untuk menciptakan sebuah produk kuliner, langkah-langkahnya sering kita jalankan dalam kehidupan sehari-hari.

Alasan saya memilih bisnis kuliner disebabkan oleh beberapa hal. Yang pertama karena bidang kuliner zaman sekarang menjadi tujuan wisata masyarakat. Begitulah trend yang berkembang saat ini, sekarang berwisata tidak hanya harus mengunjungi sebuah tempat rekreasi sebagai sarana masyarakat untuk refreshing. Namun, menikmati salah satu kuliner favorit bersama keluarga pun sudah manjadi kegiatan yang meyenangkan yang serupa dengan berwisata. Wisata kuliner, begitulah istilah yang populer diberikan masyarkat untuk melakukannya.
Kedua, adanya produk beragam yang bisa saya kembangkan. Aneka ragam produk bisa dijajakan. Meskipun banyak diataranya para pelaku usaha yang menjalankannya, persaingan antar usaha tidak akan terjadi begitu ketat. Sehingga meskipun sesama antar pelaku usaha berjualan berdampingan, tidak akan saling mengalahkan, bahkan bisa dikondisikan agar bisa sama-sama menguntungkan.
Ketiga, yaitu bidang ini menurut saya mudah diinovasikan. Dunia bisnis kuliner menawarkan kemudahan untuk pelakunya agar dapat berinovasi sesuai dengan kreatifitasnya. Dengan begitu, pasar tidak akan merasa bosan ditawarkan produk yang itu-itu saja. Setiap saat kita bisa menciptakan produk dengan ide-ide baru yang mungkin saja akan berpotensi meledak di pasaran.
Keempat, lokasi usaha yang tidak terbatas. Memilih berbisnis kuliner, kita juga diuntungkan dengan fleksibilatasnya untuk dijalankan di berbagai lokasi. Tidak melulu harus memiliki tempat usaha di lokasi yang strategis. Terkecuali target kita berjualan langsung kepada konsumen. Apalagi di era sekarang yang masyarakatnya semakin familiar dengan media internet, para pengusaha kuliner pun akan bisa memanfaatkannya untuk lebih mengembangkan usahanya dengan lebih luas.
Kelima, keuntungannya pun berlipat. Hal ini sudah bukan rahasia lagi bahwa bisnis di bidang kuliner ini menjanjikan keuntungan yang besar dan berlipat dibanding bidang usaha lainnya. Hal ini terjadi salah satunya karena rata-rata bahan baku pembuatannya yang berharga terjangkau. Selain itu kualitas dari produk kuliner ini juga sebagian besar di tentukan oleh keterampilan pembuatnya, sehingga jika kita mahir menciptakan produk kuliner dengan citarasa yang lezat dan di sukai, harga jual pun bisa melambung tinggi meski di buat dari bahan baku yang sederhana.
Selain itu, ada alasan lain saya memilih bisnis kuliner. Alasan itu adalah karena saya pribadi sangat suka makan. Jika mengunjungi suatu tempat wisata atau tempat baru hal pertama yang terpikirkan oleh saya adalah makanan apa saja yang akan saya coba. Saya sangat suka berkuliner. Alasan sederhana inilah yang mendasari saya ingin merintis bisnis kuliner.
Adapun strategi yang saya ingin terapkan agar usaha saya senantiasa berkembang, yaitu yang pertama adalah saya akan menyiapkan konsep usaha secara jelas. Konsep usaha kuliner yang saya inginkan adalah kuliner sehat dan bergizi, modern, dan memiliki cita rasa khas tradisiona. Saya ingin memadukan makanan tradisional dengan makanan modern zaman sekarang untuk mendapatkan suatu makanan yang unik dengan inovasi baru. Kedua, saya akan melakukan riset yang mendalam. Riset ini saya lakukan agar mendapatkan resep yang sesuai keinginan saya dan mampu bersaing serta memikat hati para konsumen. Ketiga, saya akan membuat rencana bisnis yang terperinci agar saya mampu mencapai target-target yang telah saya tetapkan. Hal ini sangat diperlukan agar pekerjaan dalam mengelola bisnis saya lebih terarah dan jelas. Yang terakhir yaitu menyiapkan pendanaan modal dengan data-data pendanaan yang jelas.


Selain itu, agar dapat mengembangkan bisnis saya ada hal-hal yang harus selalu dilakukan. Hal tersebut, antara lain bekerja keras, bekerja cerdas, bekerja dengan tulus, selalu mengupayakan pelayanan pelanggan yang maksimal, serta selalu menjaga mutu dan cita rasa dari makanan yang saya jual. Tak lupa saya selalu introspeksi diri, mengevaluasi kinerja saya, dan selalu bersyukur.
Dewasa ini perkembangan teknologi berkembang sangat pesat, jika kita melihat satu abad kebelakang. Perkembangan teknologi tersebut mampu merubah pola hubungan antar manusia disegala aspek kehidupan bermasyarakat baik dari segi aspek sosial, ekonomi, budaya, pendidikan serta dunia pariwisata. Perkembangan teknologi membawa perubahan yang cukup signifikan seperti perubahan dari face to face tergantikan oleh sentuhan layar, selain itu screen to screen, relasi virtual , meeting kerja sekarang telah dijalankan secara otomatis, sistematis dan robotik.
Fase perubahan tersebut dinamakan Revolusi Industri 4.0. Revolusi ini merupakan sebuah fase yang secara umum tentang otomatisasi dan pertukaran data dalam teknologi pabrik dan robotik sehingga pada akhirnya menghasilkan yang namanya “Smart Process”.
Revolusi Industri 4.0 tersebut secara tidak lansung mempengaruhi laju pariwisata di Bali disamping bisnis yang berkembang di Bali. Hal ini bisa kita lihat dari tempat- tempat wisata di Bali yang mulai berangsur-angsur merubah dan membuat tempat wisata baru yang lebih canggih mengikuti permintaan pasar saat ini.
Selain itu, dampat revolusi industri juga terkihat dari tergantikannya touring guide oleh guide berbasis aplikasi. Di Bali sendiir terdapat aplikasi Bali Tour Guide yang sudah dikembnagkan untuk perangkat android. Aplikasi ini berfungsi memberikan informasi seputar objek-objek wisata yang ada di pulau Bali. Tidak hanya sekadar informasi umum, aplikasi ini juga menyajikan ulasan mengenai berbagai aktivitas menarik, review restoran dan hotel, serta panduan dasar berwisata di Bali. Dengan aplikasi ini para traveler dapat dengan mudah menikmati wisata di Bali tanpa perlu dipandu oleh tour guide.
Perkembangan teknologi sebagai akubat dari revolusi industri 4.0 juga berpengaruh terhadap menurutnya pengguna jara travel agent . Munculnya berbagai aplikasi yang memudahkan penggunanya dalam memesan hotel, tiket pesawat, ataupun tiket destinasi pariwisata membuat peran travel agent seolah-olah tidak dibutuhkan lagi. Kini para traveler dapat merencanakan perjalanan mereka sendiri dengan hanya bermodalkan gadget. Lebih efisien dan hemat biaya tentunya.
Para pelaku industri pariwisata tentunya menyadari dengan baik akan pengaruh revolusi industri 4.0 terhadap pariwisata di Bali. Berbagai teknologi terbaru diupayakan untuk menunjang kegiatan pariwisata dan menciptakan pengalaman menarik bagi para traveler. Salah satu upaya tersebut adalah dengan memanfaatkan teknologi Big Data. Bali memiliki banyak desa wisata. Dengan memanfaatkan teknologi big data yang meliputi pendataan potensi desa wisata yang ada di Bali dan dikolaborasikan dengan beragam data terkait wisatawan dan pengunjung maka bisa diperoleh pandangan yang lebih luas. Dengan demikian pemerintah daerah bali dan pelaku industri pariwisata dapat membuat strategi yang lebih efisien dalam rangka memajukan pariwisata Bali.
Di bidang pembayaran, pengaruh revolusi industri 4.0 terlihat dari adanya rencana pemanfaatan teknologi pembayaran melalui Wechat di Indonesia, khususnya Bali. Sebelum diterapkan, pemerintah melakukan kajian yang mendalam teekait penggunaan teknologi pembayaran asal Cina ini. Salah satu hal yang menjadi penekanan dalam kajian terhadap WeChat tersebut adalah keterlibatan merchant lokal dan wajib menggunakan switching lokal. Hal ini dilakukan agar penerapan teknologi tersebut tetap meberikan keuntungan ekonomi kepada penduduk lokal.
Adapun rencana penggunaan teknologi ini didasari pada banyaknya traveler asal Cina yang berlibur ke Pulau Dewata. Traveler asal Cini tersebut lebih sering melakukan transaksi melalui WeChat untuk seluruh aktivitas mereka selama berlibur. Melihat hal yersebut pemerintah memandnag perlu diadakan kajian lebuh mendalam terhadap teknologi pembayaran tersebut guna memperoleh keuntungan yang maksimum.
Revolusi industri 4.0 memang mabawa banyak dampak positif bagi pariwisata Bali, khususnya dalam meningkatkan provit dan memberikan kemudahan bagi para traveler. Namunu perlu dipahami bahwa revolus industri 4.0 ini juga meminimalkan peran manusia dalam mengelola industri pariwisata. Pemanfaatan teknologi di berbagai aktivitas pariwisata membuat terjadinya pergeseran dari industri pariwisata yang awalnya padat karya menjadi padat modal. Jasa yang awalnya dusediakan oleh masyarakat, kini tergantukan oleh mesin dan aplikasi penunjang kegiatan pariwisata. Jika hal ini dibiarkan berlanjut, maka tingkat pengangguran di Indonesia akan semakin meningkat. Selain itu, pariwisata yang seharusnya mengungkan masyarakat lokal justru hanya akan menguntungkan pihak luar. Oleh karena itu, diperlukan penanganan yang tepat agar revolusi industri 4.0 ini tidaki mematikan peran manusia dalam pariwisata. Jangan sampai revolusi yang awalnya ditujukan untuk mengubah peradaban menjadi lebih baik justru menghancurkan peradaban itu sendiri.








Istilah millennial traveller mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita. Istilah ini merujuk pada generasi kelahiran setelah tahun 1980 yang gemar melakukan traveling ke berbagai tempat. Saat ini, millenial traveler telah menjadi pelaku utama kegiatan traveling baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Berdasarkan keterangan Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata, lebih dari 50 persen pasar wisata Indonesia sudah didominasi kaum milenial.
Kaum milenial memiliki gaya traveling tersendiri dan telah mulai meninggalkan cara berwisata lama. Saat ini, para milenial traveler lebih memilih mengurus segala keperluan traveling secara digital. Mulai dari memesan tiket, mengurus penginapan, hingga mencari destinasi yang menarik dilakukan melalui gadget mereka. Dibanding mebaca ulasan destinasi pariwisata, milenial traveler lebih suka melihat ulasan melalui foto atau video yang beredar di internet. Hal ini dianggap lebih menarik dan dapat meningkatkan keinginan mereka untuk berkunjung ke tempat tersebut. Para milenial traveler juga tidak biaa dilepaskan dari kamera mereka. Setiap momen berwisata selalu mereka abadikan melalui lensa kamera. Bahkan banyak dari mereka yang berwisata ke tempat yang jauh hanya sekadar mencari tempat foto yang instagramable.
Kaum milenial memang memiliki minat traveling yang tinggi, namun terkadang keinginan mereka untuk traveling terkendala oleh masalah biaya. Untuk mengatasinya milenial traveler biasanya mengikuti tips-tips dari para travel blogger atau travel vlogger. Selain itu mereka juga kerap membuat perencanaan perjalanan melalui aplikasi Google Trips untuk menghemat budget mereka.
Melihat kecenderungan generasi milenial yang sangat bergantung pada teknologi dalam melakukan kegiatan traveling. Penting bagi pemerintah dan pelaku pariwisata untuk melakukan perubahan. Mereka sudah tidak lagi bisa mengandalkan ‘walk in service’, menyuruh pelanggan datang langsung ke kantor travel agent untuk reservasi tiket dan memilih paket wisata. Karena pada era ini semua dilakukan secara digital.

This is an example post, originally published as part of Blogging University. Enroll in one of our ten programs, and start your blog right.
You’re going to publish a post today. Don’t worry about how your blog looks. Don’t worry if you haven’t given it a name yet, or you’re feeling overwhelmed. Just click the “New Post” button, and tell us why you’re here.
Why do this?
The post can be short or long, a personal intro to your life or a bloggy mission statement, a manifesto for the future or a simple outline of your the types of things you hope to publish.
To help you get started, here are a few questions:
You’re not locked into any of this; one of the wonderful things about blogs is how they constantly evolve as we learn, grow, and interact with one another — but it’s good to know where and why you started, and articulating your goals may just give you a few other post ideas.
Can’t think how to get started? Just write the first thing that pops into your head. Anne Lamott, author of a book on writing we love, says that you need to give yourself permission to write a “crappy first draft”. Anne makes a great point — just start writing, and worry about editing it later.
When you’re ready to publish, give your post three to five tags that describe your blog’s focus — writing, photography, fiction, parenting, food, cars, movies, sports, whatever. These tags will help others who care about your topics find you in the Reader. Make sure one of the tags is “zerotohero,” so other new bloggers can find you, too.