
Pulau Bali, si pulau kecil yang terkenal dengan sebutannya sebagai “Pulau Dewata” menyimpan segudang keunikan budaya dan keindahan alamnya. Si Pulau Kecil ini semakin menunjukkan ketangguhannya. Kini, Pulau Bali menjelma menjadi destinasi wisata yang semakin terkenal. Bahkan, Pulau Bali merupakan salah satu destinasi wisata dunia yang tak bisa dikalahkan atau diremehkan jika dibandingkan dengan destinasi wisata lainnya, baik destinasi dalam negeri maupun destinasi manca negara.

Pulau Bali memang memiliki “magnet” yang bisa menggaet wisatawan dari berbagai belahan dunia. Pulau Dewata ini punya beragam jenis wisata mulai dari alam, budaya, hingga kuliner. Tak heran Pulau Bali dinobatkan sebagai destinasi terbaik di dunia. Penghargaan ini diberikan oleh TripAdvisor lewat Travellers’ Choice Awards 2017. Mengutip situs resmi TripAdvisor, Kamis (13/4/2017), Bali menduduki peringkat pertama dari 25 destinasi terbaik di dunia. Mengalahkan destinasi-destinasi di Eropa, Amerika, sampai Timur Tengah. “Pulau Bali di Indonesia menjadi destinasi favorit baik untuk wisatawan yang butuh rileksasi sekaligus petualangan,” begitu ulasan tentang Bali yang dikutip dari situs TripAdvisor. Peringkat dua ditempati oleh London (Inggris), disusul oleh Paris (Perancis). Dua peringkat selanjutnya adalah Roma (Italia) dan New York (Amerika Serikat). Di kawasan Asia Tenggara, beberapa destinasi yang masuk dalam daftar antara lain Siem Reap di Kamboja (peringkat 8), Phuket di Thailand (peringkat 10), dan Hoi An di Vietnam (peringkat 13).

Bukan hanya itu saja, Bali juga terpilih sebagai Top Destinations in Asia 2017, mengalahkan Siem Reap (Kamboja), Phuket (Thailand), Hoi An (Vietnam), dan Kathmandu (Nepal), yang berada di peringkat setelahnya. Kementerian Pariwisata (Kemenpar) tentu saja mengapresiasi pemilihan Bali sebagai tujuan wisata terbaik versi perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat itu. Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, prestasi seperti itu sangat membantu meningkatkan citra pariwisata Tanah Air. Apalagi pemilihannya dilakukan melalui pemungutan suara para netizen di dunia.

“Setiap kali citra suatu kawasan naik 10 persen, maka kunjungan wisatawan naik 11 persen dan investasi naik 1 persen,” kata Arief, mengutip analisa dari perusahaan kehumasan internasional, Ogilvy. Arief juga menyebut pengaruh faktor 3C dalam setiap “kompetisi penobatan terbaik” dengan level internasional.
“Penghargaan akan menaikkan Confidence Level, atau kepercayaan diri secara internal Bali dan Indonesia. Penghargaan juga mendongkrak Credibility, kepercayaan pada public dunia, akan Bali dan Indonesia, semakin diakui oleh dunia. Penghargaan ikut sekaligus untuk Calibration, mendekatkan kriteria ideal sesuai standar global,” ujar Arief.
Arief lanjut mengatakan, prestasi yang diraih Bali semakin menguatkan alasan kalau “pencitraan” pariwisata melalui dunia maya sangatlah penting.
“Itu sudah terbukti, karena selain Tripadvisor, sejumlah situs dan asosiasi internasional juga pernah menobatkan Bali sebagai yang terbaik, antara lain Travel and Leisure, World Travel Awards, Conde Nast Traveller sampai UNWTO Awards,” pungkas Arief.
Selain penobatan Bali sebagai salah satu destinasi wisata dunia tersebut, Bali juga mampu mencetak sumber daya manusia (SDM) yang berkompetensi global. Hal tersebut terbukti dari adanya penyelenggaraan 1st Annual Hottelier Summit Indonesia 2019 yang digelar Global Hospitality Expert (GHE) di H Sovereign Bali, Jumat (12/7/2019) hingga Sabtu (13/7/2019). Latar belakang digelarnya acara ini, yaitu Keberadaan pariwisata sebagai penggerak utama perekonomian Bali menjadikan industri keramahtamahan (hospitality) mempunyai peran yang sangat strategis. Namun semua pihak harus memiliki pemahaman komprehensif tentang kepariwisataan, sehingga bermanfaat sebesar-besarnya bagi kesejahtaraan bangsa secara merata dan tetap menjaga kelangsungan sumber daya yang ada agar bermanfaat bagi generasi mendatang.
Menurut Agus Yoga Iswara, BBA., BBM., MM., CHA selaku President Director GHE, kegiatan ini merupakan sebuah media untuk mengedukasi para praktisi, investor serta seluruh insan pariwisata akan pentingnya mengetahui tren terkini di industri pariwisata. Sesuai tema yang diambil yakni “Leveraging Local Talent for World Class Hotelier” diharapkan sumber daya manusia lokal di Bali dan Indonesia benar-benar mampu untuk menjadi salah satu barometer insan pariwisata yang ahli berkelas internasional dan menjadi tuan di negerinya sendiri.
Dalam kegiatan 2 hari itu, dilaksanakan sejumlah seminar dengan topik yang strategis untuk berbagai divisi pada industri pariwisata dan perhotelan. Yoga Iswara menambahkan bahwa tujuan dilaksanakan kegiatan ini adalah untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Bali dan Indonesia bukan hanya terkenal sebagai destinasi wisata namun juga dikenal sebagai pencetak dan penyedia sumber daya manusia (SDM) kepariwisataan yang handal dan berstandar global.
Pada akhir acara, Sabtu (13/7) akan dilaksanakan pula kegiatan perayaan ulang tahun ke-2 Global Hospitality Expert (GHE). Puncak acara akan diisi dengan penganugerahan apresiasi kepada para insan pariwisata yang terpilih berdasarkan kontribusi dan pemikiran cerdasnya dalam memajukan pariwisata di Bali dan Indonesia.
Di samping itu diserahkan juga penghargaan sepanjang masa (Lifetime Achievement) kepada tokoh budaya Bali yang telah menciptakan pondasi pariwisata Bali yang berbasis budaya dan menjadi taksu pariwisata Bali. Jumlah penerima “Global Hospitality Award 2019” mencapai 13 orang. Global Hospitality Expert juga akan memberikan penghargaan (Appeciation Certificate) kepada para ketua asosiasi kepariwisataan di Bali yang telah berjasa dan berkontribusi dalam memimpin asosiasinya serta berperan aktif dalam pembangunan kepariwisataan. Penghargaan akan diserahkan kepada 24 ketua asosiasi baik usaha, pemilik, profesi, pendidikan, pelatihan serta lembaga pariwisata dan perhotelan di Bali.
Dari kedua penghargaan dan acara yang digelar tersebut, telah menunjukkan bahwa kini Pulau Bali semakin siap untuk menantang dunia. Semakin matang sebagai destinasi wisata dunia yang mampu bersaing di era globalisasi seperti saat ini. Tentunya untuk mempertahankan dan meningkatkan pesona Bali sebagai destinasi wisata dunia harus dibantu oleh seluruh masyarakatnya. Bukan hanya masyarakat yang bergerak di bidang pariwisata, tetapi juga oleh seluruh lapisan masyarakat. Apalagi di masa industry 4.0 seperti saat ini. Terutama generasi muda harus mampu menjadi SDM yang unggul dan berkompeten agar nantinya Bali tetap eksis atau bahkan semakin eksis di mata dunia.
